experiencing the community through art.


Leave a comment

“BLAZE of GLORY”

Pameran proyek visual
Danney Agus Junerto dan Deni Rahman

Pameran yang juga melibatkan A Sudjud Dartanto sebagai penulis ini, merupakan proyek visual yang mencoba untuk mengeksplorasi lambang-lambang budaya tradisional dan modern. Yang dieksplor oleh Dani adalah lambang-lambang budaya dari khazanah budaya Jawa, sementara Deni memilih irisan budaya modern. Deni dan Dani memiliki kesamaan latar belakang pendidikan formal, yaitu seni grafis ISI Yogyakarta.

Pameran akan dibuka
Hari : Minggu, 13 Mei 2012
Pukul : 19.30- selesai
Tempat : Survive Garage
Jl.Bugisan Selatan
Tirto Nirmolo, Kasihan-Bantul
Hiburan : Jammin’ Acoustic & K2K lovers

Pameran akan berlangsung hingga 3 Juni 2012


Leave a comment

ROJALI (Rombongan Jawa Liar)

Oleh Milovan Sutrisno

Ruang jalanan bagi sejumlah seniman jalanan bukanlah sebuah kebetulan, melainkan pilihan. Karena di jalanan itu mereka bisa bermimpi tentang kota, mengimajinasi sebuah kota. Dari dulu hingga sekarang, sebuah kota selalu dimimpikan dengan pelbagai cara dan rupa. Kota merupakan ruang yang selalu dibentuk dan diperebutkan maknanya oleh penghuninya. Budaya visual perkotaan menunjukkan bahwa perebutan ruang tidak saja terlihat melalui berbagai penanda seperti: tugu, billboard, baliho, logo, iklan, promosi, kaki lima, lesehan, agen koran, rambu, poster, tetapi juga oleh grafiti dan mural.

Sudah satu dekade ini grafiti dan mural kian menguatkan dirinya sebagai penanda sebuah kota. Sebagai penanda kota: grafiti, mural, tag, stencil, dll, merupakan hasil hubungan antara anak muda dengan kota. Komunitas perupa di jalanan tersebut sedang memimpikan kotanya dengan caranya sendiri. Begitu pun ROJALI, komunitas anak muda yang tumbuh besar di kota-kota Jawa (Jogja, Semarang, Surabaya, Malang, Salatiga, dan Surakarta). Mereka saling bertemu, berdialog, dan membangun jaringan untuk menunjukkan visualitas ke-urban-an diri dan kotanya masing-masing yang mungkin berbeda dengan ke-urban-an yang tumbuh di Bandung dan Jakarta.

Kali ini, Survive Garage! berkesempatan menjadi ruang presentasi bagi komunitas ROJALI. Kesempatan ini menjadi ruang bagi kita untuk sedikit mengulik seni jalanan yang tumbuh di antar kota terkait budaya anak muda setempat serta watak kota itu sendiri. Kita juga bisa berdialog tentang pelbagai perubahan zona visual – ekonomi di setiap jalan dan kawasan. Selain itu, kita perlu memperbincangkan sikap seni jalanan ketika tersentuh oleh medan seni rupa kontemporer, dari kompetisi sampai upaya distorsinya menjadi iklan-iklan dinding

GANG FEST #1
ROJALI ( ROMBONGAN JAWA LIAR) STREET ART EXHIBITION

AT SURVIVE GARAGE JL. BUGISAN SELATAN NO, 11 BANTUL YOGYAKARTA INDONESIA
14 JULI 2011-14 AGUSTUS 2011
07:30 PM TILL DROP
MUSIC PERORM:
JOGJA THE ALL KIDS VOICE

SCREENING MOVIE:
URBAN HOMELESS DOCUMENTARY
16 JULI 2011
06:30 PM

WE ARE ALL JAVA CITY KING
SURABAYA:
YZRL/PINO/ADR/HONK/MENAW/D​SK/OBY/BORTUCA
MALANG:
RACON/SLEECK/CLA/ABEONE/DO​LAH/NJR
SOLO:
SCRAP/CREZ/ZEMB/OFNA/SHETO​P
SALATIGA:
WAKE/RANE/360/BOB/SMOKE
YOGYAKARTA:
OAKER/MUCK/VAYNE3/NSIDE193​/TUYULOVEME/OYSTER/HEREHER​E/PLUS03/LOVEHATELOVE/BIGS​HOW/TRAGIC/NICK23

SUPPORT:
URBAN HOMELESS/SURVIVE

Pameran akan berlangsung selama 1 bulan.


Leave a comment

“Between Happy Rock and Roll” Visual Art Exhibition

Visual Art Exhibition
Artists : Teguh Hartanto | Wimbo Praharso | Digie Sigit
24 April – 10 May 2011

SURVIVE!garage

Jalan Bugisan Selatan No 11 RT 1 RW 8, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta
Indonesia.
“Belanja atau Mati”, Digie Sigit
Stencil art
“Free For Tibet”, Digie Sigit
Stencil Art/49 x 58/ 2010
“Empty Head Full Heart”, Teguh Hartanto
Silk Screen Printing, Mix Media on Canvas/40 x 40 cm/2011
 
“I could be wrong, I Could be  right”, Teguh Hartanto
Silk Screen Printing, Mix Media on Canvas/40 x 40 cm/2011
“Society”, Wimbo Praharso
Stencil Art on Board
“From Me to You”, Wimbo Praharso
Stencil Art on Board
Dalam beberapa waktu lamanya ini kita dibombardir dengan ekspresi seni rupa jalanan atau  lebih dikenal dengan bahasa sononya ‘street art’. Yang berupa mural,graffiti, tagging.
Yang banyak bermunculan setelah digiatkan secara massif oleh almarhum Apotik Komik  dengan berbagai projek muralnya.sayang….
Namun tahun-tahun terakhir ini mulai bermunculan graffiti-grafiti action yang ditorehkan di dinding Jakarta, Bandung, dan Yogya.
Seiring dengan kehendak anak muda gaul-trendy yang melek informasi melalui internet-komputerisasi
Setelah ekspresi seni rupa jalanan tiga jenis yang tersebut diatas sebenarnya ada ekspresi seni jalanan lainnya yang kurang massif keterjadiannya. Semisal, poster atau seni tempel-stiker, kolase dan stencil. Seakan terlupakan…..
Kenapa begitu? Penulis mensinyalir ada beberapa faktor sehingga ketiga jalur seni jalanan ini tidak berkembang dan popular di kalangan penggiat seni jalanan.
Misalnya teknik pembuatannya yang lebih rumit dengan berbagai tahapan sebelum dieksekusi di dinding jalanan. Pertama harus memilih gambar yang tepat dan sesuai dengan ide kretifnya si seniman. Ada proses membayangkan. Atau bila sudah professional biasanya dapat mendisain dulu lewat komputer. (inipun juga terjadi di pembuatan graffiti dan mural) Kemudian setelah itu gambar tersebut melalui proses di positif- negatifkan melalui foto kopi, atau sewaktu diolah di kompuer. Setelah kertas master jadi di print dengan gambar yang dimaksud maka ada poses cutting, atau dipotong- potong dengan cermat, karena ada perhitungan ketepatan “jembatan” yg dibuat diantara potongan-potongan tersebut sehingga master gambar tersebut kuat dan artistic. Bila ingin gambar pewarnaannya ingin tidak hanya monokrom harus ada beberapa master gambar lagi dibuat dengan perhitungan artistic lainnya. Belum lagi bila sudah jadi master itu harus dibawa potongan-potongan gambar yang ringkih sepanjang jalan. Serta apalagi bila sudah terkena cat semprotnya.pakaian badan bisa kotor dan sulit dihilangin bila tak memakai cairan tiner,bensin. Membawa cat spray sendiri sebagai pewarna yang paling popular juga merepotkan membawa dan mahal harganya. Dan kecendrungan ekspresi stencil dan seni tempel lebih kecil ukurannya daripada graffiti atau mural yang lebih massif dari segi ukuran sehingga eksistensi di visual dan senimannya lenih cepat tertangkap oleh panca indra kita. Namun kita juga jangan lupa Bangsi dan Obey. Siapa yang tak kenal mereka? Dari penggerak seni jalanan sampai kolektor seni kontemporer mengenalnya dan tak jarang menjadikan mereka seperti idola dan dewa. Mereka sangat massif dalam penggunaan ukuran seni tempel mereka dan stencil mereka. Dan beberapa seniman seniman jalanan lainnya di Amerika dan di Eropa sana.
Sedemikianlah poster atau seni tempel dan stiker, harus ada proses mendisain ,mencetak baik melalu fotokopi atau sablon,atau stensil. Bahkan bila untuk seni poster dan seni tempel kita harus membawa ember lem,rol yang panjang dan pendek, bahkan tak jarang juga harus membawa ember berisi cat putih untuk ngeblok.
Jadi kemungkinan faktor-faktor ini tiga ekspresi cabang seni jalanan tersebut tidak popular dibandingkan dengan mural, graffiti dan tagging yang lebih dapat dieksekusi secara cepat dan lansung di tembok jalanan. Seperti juga melukis di kanvas atau kertas daripada mengrafis yang harus melalui beberapa tahapan untuk dapat menikamati hasil jadi ekspresi visual si seniman.
Namun itu tidak berarti seni ini mati benaran  hanya mati surilah.
Ada Taring Padi yang masih intens secara berkala tanpa bisa diprediksi tetap memunculkan poster grafisnya. Beberapa waktu ini ada poster Munir-melawan lupa,dan sebelumnya ada poster wajah setan gundul dengan senyumannya di jalan-jalan Yogya. Pada tahun awal awal tahun 2000an ada sebuah studio underground di daerah Minggiran Yogyakarta yang mencoba mempopulerkan stencil, stiker dan poster-seni tempel dieksekusi di tembok-tembok jalanan Yogya dan area –area publok lainnya.. Studio tersebut diaktifkan Mr QocloQ aka YV, Sigi Obong aka Sigi Teknoshit, Gentong aka GT.namun diparuh jalan pertengahan 2000an pentolan pentolan stencil ini menghilang. Pada waktu yang hampir bersamaan muncul seniman memakai gaya stencil yang cukup piawai dan menjadikannya popular yatiu Ari Dyanto, namun penulis jarang atau bahkan belum pernah melihat dia mengekskusii stencilnya di jalanan secara massif dan intens. Dia lebih memilih stencil hanya bagian dari penggayaan ekspresi visualnya saja untuk mencapai artistic yang dia inginkan. Namun nasib stencilnya langsung dibrangus untuk dikonsumsi terbatas dan  privat di galeri dan para kolektor. Diapun biasanya menstencil ditimpakan di sebuah bidang kanvas. Salon stencilyser, penulis menamakan.
Nah pada pada pameran di survive garage kali ini mencoba menampilkan kembali cabang street art berupa stencil, sablon art dan seni tempel-kolase yang dilakukan oleh Sigi Obong aka Sigi Teknoshit, Teguh aka TG, Wimbo aka WB.  Mereka mencoba dengan memunculkan semangat kembali untuk ‘turun kejalan’ lagi dengan stencil dan seni tempel mereka. Serta mencoba mengenalkan kembali melalui pameran di survive garage kali ini.
Semoga ekspresi ketiga seniman ini dapat menjadi trigger-stimulan bagi penggiat seni jalanan lainnya untuk membuka wawasan dan mencoba mempraktekan cabang cabang seni jalanan ini untuk menambah variasi seni jalanan di yogyakarta ataupun di Indonesia yang sudah sekian lama di bombandir oleh hiruk pikuk mural,graffiti, dan tagging. Apa tak bosan?.
Selamat menikamati.
Viva La Street,!
Di jalanan kami percaya!
Di jalanan kami menjadi!
Di jalanan kami bertemu
Dijalanan kami berekspresi merdeka!
Penulis-kurator
Mr QocloQ aka YV
SURVIVE! :
Between Happy Rock & Roll

Kali ini, para perupa Digie Sigit, Teguh Hartanto, Wimbo Praharso mengadakan pameranbersama di Survive Garage, Bugisan, Yogyakarta, 24 April‐10 Mei 2011. Pameran berjudul “Between Happy Rock & Roll” ini menampilkan karya‐karya berupa sikap reaksi dan respon atas adegan, peristiwa sepanjang peradaban manusia serta perkembangannya.

Pelbagai gagasan teknik seni grafis, seperti silk screen printing, stencil, wood cut dan mix media, digunakan untuk menghasilkan karya-karya yang merespon fenomena sehari-hari. Karya dengan teknik seni grafis ini, dapat disimak dalam karya Sigit, seperti “Belanja atau Mati”, “Bunda, pabrik senjata masih ada”, “Free for Tibet”, “Ruhollah Khomeini/againts dominitations”, “Berbagi masa depan”. Karya Teguh, “Sick Boi”, “I was born in 2011”, “More or less”, “Empty head full heart”, “There’s nothing to hide”, “I Could be wrong”, “I could beright. Dan karya Wimbo, Enjoy”, “From me to you”, “Sometimes I feel lonely”, “Society”, Leisure”, “Sweet pretty things”.

Representasi karya‐karya ini diwujud dengan berbagai ikon‐ikon media populer, yang begitu akrab dengan lingkungan jaman saat ini dan telah menjadi sarana pengendali pemikiran umum. Sigit‐Teguh‐Wimbo mencoba memperingatkan kita atas apa yang kita alami dapat berupa hiperrealitas “bahaya media”yang dilakukan oleh para penguasa media melalui karya mereka. Media dipahami sebagai kekuatan yang memiliki sumber positif dan negatif. Dampak media, seringkali memberikan hasil yang merugikan dan menguntungkan, secara relatif dapat diterima dan disikapi dengan penuh tanggung jawab. Namun hal itu, akan kembali kepada manusia yang telah dianugerahi akal, pikiran, perasaan dan daya imajinasi yang tanpa batas. Continue reading


Leave a comment

MAGMIXMUCK

“MAGMIXMUCK”
COLLABORATION EXHIBITION
(MURAL, GRAFFITI, PAINTING AND DRAWING)
MARCH 29 – APRIL 16, 2011

SURVIVE!garage memamerkan proyek kolaborasi antara street artist Ceko dan Indonesia. Mereka yaitu Magdalena Peseva (mag – CZ), MiKo (tuyuloveme – IDN) dan RIO (muck – IDN). Proyek dilakukan selama seminggu. Mereka `dibiarkan` bertemu dan menentukan sendiri bentuk perjumpaan artistik. Proses tersebut menghasilkan sejumlah bentuk artistik yang berupa mural, graffiti, lukisan dan drawing. Kegiatan artistik dalam komuntas Survive ini menjadi bagian dari proses sosial di Yogyakarta yang terbuka dengan bentuk-bentuk komunikasi estetis antara dua latar belakang budaya.

Survive! Garage featuring collaboration project of street artist between the Czech Republic and Indonesia. They are Peseva Magdalena (mag – CZ), MiKo (tuyuloveme – IDN) and RIO (muck – IDN). The project has done during the week. They are allowed to meet and determine their own form of artistic. This process produces several forms of artistic in the form of murals, graffiti, painting and drawing. These artistic activities in Survive community has been part of the social process in Yogyakarta, which is open to the aesthetic form of communication between the two cultural backgrounds.

 

Artist:

MAGDALENA PESEVA ( Czech REP.)

http://www.myspace.com/magdalenapeseva

MIKO TUYULOVEME (YK.INDONESIA

http://www.tuyuloveme.deviantart.com/
http://tuyuloveme.blogspot.com/

RIO MUCK ( YK.INDONESIA)

http://www.muckdestroyer01.blogspot.com/

OPENING:

TUESDAY, 29 MARCH 2011
07.30 PM WITH KARAOKE PARTY

AT SURVIVE GARAGE
JL. BUGISAN SELATAN NO 11
YOGYAKARTA


Leave a comment

Biking: from travel becomes symbols of unity

video created by Jason Heller, October 2010

—————————————————

Inter-Location Project

Site: Melbourne,  http://interlocationproject.blogspot.com/



 

 

 

 

 

 

 

 

Rollin’ Contact

Curated by: Claire Alexander, nine on seven Artspace


Bikes have passed beyond being simply mechanical objects used for travel to become symbols of unity. They exist in our lives as companions, entering our lexicon and folklore through transit, speed and mobile revelry.

Rollin’ Contact draws from the terminology of physics to describe the point of contact between a wheel and its surface. Expanded broadly, it represents the themes of connection and commonality between people and bikes. Between bikes and art. Between art and people.

The exhibition will feature drawings, prints, silkscreens, photographic images, design, video, paintings, sculptures, craft and textiles that expand on the theme.

A component of the show comprises works by artists who form a part of the Inter-Location Project, (ILP). ILP is an independent organisation formed to build a DIY arts bridge between the two cities of Jogjakarta, Indonesia and Melbourne, Australia. ILP aims to express and maintain varied forms of artistic and cultural dialogue, creative commonalities and friendship between these two bicycle-loving cities.

http://www.melbournebikefest.com.au/calendar/bikefest/7

Featuring works by:

Akẻan, Anton Subiyanto, Bayu Widodo, Betty Musgrove, Bhavani Stoddart,  Claudie Frock, Colin Moore, Dan Bell, Dan Goronszy, El Kampretto, Georg, Jarrad Kennedy, Jarrod Mortimer, Joshua Weeks, Kasia Lynch, Lauz, Lindsay Cox, Love Hate Love, Micheal P Fikaris, Oscar Vincente Slorach-Thorn, Pandarosa Design, Snotrag, Steve Boyd, Stewart Cole, Tom Civil and Upper Left Arm.

Support:

http://nineonseven.blogspot.com/2010/11/inter-location-project-australian.html

ILP Previous exhibition

site: Jogjakarta

https://survivegarage.wordpress.com/category/project/


Leave a comment

‎stop motion @ survive! garage by Sébastien Szczyrk

“UN ESCARGOT VIDE?” exhibition by Sébastien Szczyrk
Sunday 31 oktober 2010
music Performance by Mardi Robot

Sébastien Szczyrk comes from the North Eastern part of France. After his studies at the School of Fine Arts in Mulhouse, he graduated from the Beaux-Arts in Paris in 2005.

His work is a multi-disciplinary one and goes from his visual researches (drawings, illustrations, performances…) to his sound experimentations (CD, concerts, installations…).

Sébastien Szczyrk is currently working on a project entitled “Un Escargot Vide ?” (An empty snail?) and has for ambition to direct an animation movie mixing his visual and sound centers of interests.

http://www.unescargotvide.eu/

http://www.elsieelse.eu/

http://sebastien.szczyrk.free.fr/

Mixed Media Drawing

In his graphical work, Sébastien employs a lot of different technics and supports such as collage, chinese inks, color pencils, color pens, markers, poska, akryl painting and even coffee …

Drawing and collage, for the artist, are some kinds of games. They allows us perceive our environment differently and to fight against loneliness.

In his graphical work, Sébastien always emphasizes on spontaneity and re-interpretation of daily happenings.

Each drawing is a research of his personal resentment and become a part, «a square» of his memories.

During his exhibitions, he tries to compose an art-space in order to create a kind of « senario of memories » to the audience.

He usally works on papers but he’s also interrested in street-art and has realised some wall-paintings.

Recently he has started to introduce computer-created images and intergrate them into his works by applying traditional technics onto printed drawings

His works have been exhibited in Paris; Tokyo, Kyoto, Berlin, Yogyakata and Denpasar.