experiencing the community through art.

“Between Happy Rock and Roll” Visual Art Exhibition

Leave a comment

Visual Art Exhibition
Artists : Teguh Hartanto | Wimbo Praharso | Digie Sigit
24 April – 10 May 2011

SURVIVE!garage

Jalan Bugisan Selatan No 11 RT 1 RW 8, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta
Indonesia.
“Belanja atau Mati”, Digie Sigit
Stencil art
“Free For Tibet”, Digie Sigit
Stencil Art/49 x 58/ 2010
“Empty Head Full Heart”, Teguh Hartanto
Silk Screen Printing, Mix Media on Canvas/40 x 40 cm/2011
 
“I could be wrong, I Could be  right”, Teguh Hartanto
Silk Screen Printing, Mix Media on Canvas/40 x 40 cm/2011
“Society”, Wimbo Praharso
Stencil Art on Board
“From Me to You”, Wimbo Praharso
Stencil Art on Board
Dalam beberapa waktu lamanya ini kita dibombardir dengan ekspresi seni rupa jalanan atau  lebih dikenal dengan bahasa sononya ‘street art’. Yang berupa mural,graffiti, tagging.
Yang banyak bermunculan setelah digiatkan secara massif oleh almarhum Apotik Komik  dengan berbagai projek muralnya.sayang….
Namun tahun-tahun terakhir ini mulai bermunculan graffiti-grafiti action yang ditorehkan di dinding Jakarta, Bandung, dan Yogya.
Seiring dengan kehendak anak muda gaul-trendy yang melek informasi melalui internet-komputerisasi
Setelah ekspresi seni rupa jalanan tiga jenis yang tersebut diatas sebenarnya ada ekspresi seni jalanan lainnya yang kurang massif keterjadiannya. Semisal, poster atau seni tempel-stiker, kolase dan stencil. Seakan terlupakan…..
Kenapa begitu? Penulis mensinyalir ada beberapa faktor sehingga ketiga jalur seni jalanan ini tidak berkembang dan popular di kalangan penggiat seni jalanan.
Misalnya teknik pembuatannya yang lebih rumit dengan berbagai tahapan sebelum dieksekusi di dinding jalanan. Pertama harus memilih gambar yang tepat dan sesuai dengan ide kretifnya si seniman. Ada proses membayangkan. Atau bila sudah professional biasanya dapat mendisain dulu lewat komputer. (inipun juga terjadi di pembuatan graffiti dan mural) Kemudian setelah itu gambar tersebut melalui proses di positif- negatifkan melalui foto kopi, atau sewaktu diolah di kompuer. Setelah kertas master jadi di print dengan gambar yang dimaksud maka ada poses cutting, atau dipotong- potong dengan cermat, karena ada perhitungan ketepatan “jembatan” yg dibuat diantara potongan-potongan tersebut sehingga master gambar tersebut kuat dan artistic. Bila ingin gambar pewarnaannya ingin tidak hanya monokrom harus ada beberapa master gambar lagi dibuat dengan perhitungan artistic lainnya. Belum lagi bila sudah jadi master itu harus dibawa potongan-potongan gambar yang ringkih sepanjang jalan. Serta apalagi bila sudah terkena cat semprotnya.pakaian badan bisa kotor dan sulit dihilangin bila tak memakai cairan tiner,bensin. Membawa cat spray sendiri sebagai pewarna yang paling popular juga merepotkan membawa dan mahal harganya. Dan kecendrungan ekspresi stencil dan seni tempel lebih kecil ukurannya daripada graffiti atau mural yang lebih massif dari segi ukuran sehingga eksistensi di visual dan senimannya lenih cepat tertangkap oleh panca indra kita. Namun kita juga jangan lupa Bangsi dan Obey. Siapa yang tak kenal mereka? Dari penggerak seni jalanan sampai kolektor seni kontemporer mengenalnya dan tak jarang menjadikan mereka seperti idola dan dewa. Mereka sangat massif dalam penggunaan ukuran seni tempel mereka dan stencil mereka. Dan beberapa seniman seniman jalanan lainnya di Amerika dan di Eropa sana.
Sedemikianlah poster atau seni tempel dan stiker, harus ada proses mendisain ,mencetak baik melalu fotokopi atau sablon,atau stensil. Bahkan bila untuk seni poster dan seni tempel kita harus membawa ember lem,rol yang panjang dan pendek, bahkan tak jarang juga harus membawa ember berisi cat putih untuk ngeblok.
Jadi kemungkinan faktor-faktor ini tiga ekspresi cabang seni jalanan tersebut tidak popular dibandingkan dengan mural, graffiti dan tagging yang lebih dapat dieksekusi secara cepat dan lansung di tembok jalanan. Seperti juga melukis di kanvas atau kertas daripada mengrafis yang harus melalui beberapa tahapan untuk dapat menikamati hasil jadi ekspresi visual si seniman.
Namun itu tidak berarti seni ini mati benaran  hanya mati surilah.
Ada Taring Padi yang masih intens secara berkala tanpa bisa diprediksi tetap memunculkan poster grafisnya. Beberapa waktu ini ada poster Munir-melawan lupa,dan sebelumnya ada poster wajah setan gundul dengan senyumannya di jalan-jalan Yogya. Pada tahun awal awal tahun 2000an ada sebuah studio underground di daerah Minggiran Yogyakarta yang mencoba mempopulerkan stencil, stiker dan poster-seni tempel dieksekusi di tembok-tembok jalanan Yogya dan area –area publok lainnya.. Studio tersebut diaktifkan Mr QocloQ aka YV, Sigi Obong aka Sigi Teknoshit, Gentong aka GT.namun diparuh jalan pertengahan 2000an pentolan pentolan stencil ini menghilang. Pada waktu yang hampir bersamaan muncul seniman memakai gaya stencil yang cukup piawai dan menjadikannya popular yatiu Ari Dyanto, namun penulis jarang atau bahkan belum pernah melihat dia mengekskusii stencilnya di jalanan secara massif dan intens. Dia lebih memilih stencil hanya bagian dari penggayaan ekspresi visualnya saja untuk mencapai artistic yang dia inginkan. Namun nasib stencilnya langsung dibrangus untuk dikonsumsi terbatas dan  privat di galeri dan para kolektor. Diapun biasanya menstencil ditimpakan di sebuah bidang kanvas. Salon stencilyser, penulis menamakan.
Nah pada pada pameran di survive garage kali ini mencoba menampilkan kembali cabang street art berupa stencil, sablon art dan seni tempel-kolase yang dilakukan oleh Sigi Obong aka Sigi Teknoshit, Teguh aka TG, Wimbo aka WB.  Mereka mencoba dengan memunculkan semangat kembali untuk ‘turun kejalan’ lagi dengan stencil dan seni tempel mereka. Serta mencoba mengenalkan kembali melalui pameran di survive garage kali ini.
Semoga ekspresi ketiga seniman ini dapat menjadi trigger-stimulan bagi penggiat seni jalanan lainnya untuk membuka wawasan dan mencoba mempraktekan cabang cabang seni jalanan ini untuk menambah variasi seni jalanan di yogyakarta ataupun di Indonesia yang sudah sekian lama di bombandir oleh hiruk pikuk mural,graffiti, dan tagging. Apa tak bosan?.
Selamat menikamati.
Viva La Street,!
Di jalanan kami percaya!
Di jalanan kami menjadi!
Di jalanan kami bertemu
Dijalanan kami berekspresi merdeka!
Penulis-kurator
Mr QocloQ aka YV
SURVIVE! :
Between Happy Rock & Roll

Kali ini, para perupa Digie Sigit, Teguh Hartanto, Wimbo Praharso mengadakan pameranbersama di Survive Garage, Bugisan, Yogyakarta, 24 April‐10 Mei 2011. Pameran berjudul “Between Happy Rock & Roll” ini menampilkan karya‐karya berupa sikap reaksi dan respon atas adegan, peristiwa sepanjang peradaban manusia serta perkembangannya.

Pelbagai gagasan teknik seni grafis, seperti silk screen printing, stencil, wood cut dan mix media, digunakan untuk menghasilkan karya-karya yang merespon fenomena sehari-hari. Karya dengan teknik seni grafis ini, dapat disimak dalam karya Sigit, seperti “Belanja atau Mati”, “Bunda, pabrik senjata masih ada”, “Free for Tibet”, “Ruhollah Khomeini/againts dominitations”, “Berbagi masa depan”. Karya Teguh, “Sick Boi”, “I was born in 2011”, “More or less”, “Empty head full heart”, “There’s nothing to hide”, “I Could be wrong”, “I could beright. Dan karya Wimbo, Enjoy”, “From me to you”, “Sometimes I feel lonely”, “Society”, Leisure”, “Sweet pretty things”.

Representasi karya‐karya ini diwujud dengan berbagai ikon‐ikon media populer, yang begitu akrab dengan lingkungan jaman saat ini dan telah menjadi sarana pengendali pemikiran umum. Sigit‐Teguh‐Wimbo mencoba memperingatkan kita atas apa yang kita alami dapat berupa hiperrealitas “bahaya media”yang dilakukan oleh para penguasa media melalui karya mereka. Media dipahami sebagai kekuatan yang memiliki sumber positif dan negatif. Dampak media, seringkali memberikan hasil yang merugikan dan menguntungkan, secara relatif dapat diterima dan disikapi dengan penuh tanggung jawab. Namun hal itu, akan kembali kepada manusia yang telah dianugerahi akal, pikiran, perasaan dan daya imajinasi yang tanpa batas.

Karya‐karya dalam pameran ini, mengingatkan kita akan gerakan seni yang berasaskan atas citra‐citra media yang datang dari budaya media populer itu sendiri, disebut Pop Art, pada tahun 1950‐an dan 1960‐an. Gagasan para seniman Pop Art, merepresentasikan pelbagai adegan dan objek dari budaya massa, dan menggunakan berbagai media saat itu dalam karyanya. Gaya pop art hingga saat ini masih diterapkan dan dapat kita jumpai diberbagai ruang publik, media massa, dunia maya dan sebagainya, dengan aneka ragam kepentingan. Dan gaya pop art ini, kita temui dalam pameran “Between Happy Rock & Roll”.

Fenomena media populer yang bersifat sementara atau “berumur pendek” merupakan cermin tanda budaya pop. Makna yang diuraikan oleh pelbagai penafsir tertentu, masing‐masing memiliki uraian makna konotatif yang berbeda‐beda. Aneka ragam tanda dan simbol yang terdapat dalam karya‐karya Sigit, Teguh dan Wimbo, berupa media‐media dokumentasi perilaku manusia, figur tokoh‐tokoh, elektronik, dan teknologi, menjadi media komunikasi massa yang mengajak kita kembali berpikir kognitif secara bijak untuk menyikapi serbuan semua media peradaban jaman. Media komunikasi massa merupakan wujud gagasan yang bertujuan mempermudah jangkauan ruang dan waktu manusia. Perkembangan media massa tanpa batas, bebas, tumpang tindih dan tanpa terkontrol atau lepas kuasa manusia, mengakibatkan keanekaragaman persepsi yang semakin besar dan representasi yang bervariatif.

Semua telah menjadi bagian rangkaian unsur‐unsur makna yang bisa dibandingkan, dikaitkan satu sama lain. Oleh sebab itu, yang menarik tidak hanya selalu hasil pembacaan makna, melainkan proses menginterpretasikan dan yang direpresentasikan. Pelbagai tanda dan simbol dapat diintegrasikan secara sederhana tanpa harus terpaku dalam wacana‐wacana ilmu pengetahuan dan hasil pemikiran‐pemikiran yang telah mengubah dunia.

Karya Sigit, teguh dan Wimbo ingin menggambarkan tentang kehidupan sehari‐hari, kenyataan yang berlangsung, menawarkan kesempatan berpikir kembali sebelum terperosok dan terjebak dalam kesenangan media‐media pengalih pikiran. Produk‐produk yang mengalihkan pikiran, menggiring alam rasio dengan cara dibentuk menjadi artifisial yang semu. Pengalihan pikiran berupa produk media populer, ditawarkan secara halus dan menggoda untuk masuk dalam wilayah generalisasi budaya yang memiliki tujuan dunia yang merucut.

Interpretasi yang terkandung dalam pameran ini dapat menjadi suatu pelepas dahaga atau sentuhan lembut untuk mengambil keputusan yang lebih bijaksana. Suatu budaya manusia, dengan kebiasaan dalam berperilaku kadangkala terikat dengan nilai‐nilai dan norma yang berlaku. Tingkah laku tertentu baik positif dan negatif, akan mengalami siklus yang berulang-ulang dan akan kembali kepada keputusan atau pilihan manusia itu sendiri.

Selamat Berpameran dan Hari Kartini..^_^

Aji Windu Viatra

Referensi Pustaka :

  • Barker, Chris. 2000. Culture Studies, Teori dan Praktik. Penerjemah: Nurhadi, Kreasi Wahana Yogyakarta.
  • Danesi, Marcel. 2010. Semiotika Media. Penerjemah: A. Gunawan Admiranto. Jalasutra, Yogyakarta.
  • Sachari, Agus. 2002. Estetika: Makna, Simbol dan Daya. Penerbit ITB, Bandung

link: http://graphicvictims.wordpress.com/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s