experiencing the community through art.


Leave a comment

survive for merapi!

survive garage, is preparing humanitarian aid (clothes, logistics) for for those people who became victims of the eruption of Merapi mount. pray for Indonesia

PERHATIAN:
Subject: Persiapan hujan abu (apabila rumah masih dalam jarak aman):
Persiapan hujan abu (apabila rumah masih dalam jarak aman): 

* Tutup pintu dan jendela.
* Letakkan handuk atau kain basah di sela-sela pintu atau lubang angin lainnya.
* Lindungi peralatan elektronik yang sensitif dengan debu (kamera, dvd player, dll.) dalam wadah yang aman, atau dibungkus dengan plastic wrap.
* Jika memiliki penyakit pernapasan (bronchitis, emphysema, athsma), hindari paparan dengan abu. Tetaplah tinggal di dalam rumah atau, jika memungkinkan, mengungsi lebih awal.
* Pastikan ternak atau hewan peliharaan memiliki stok minum dan pakan.
* Siapkan perlengkapan darurat dan barang-barang untuk evakuasi.
* Untuk persiapan evakuasi, siapkan kendaraan menghadap jalan dan/atau menjauhi arah bahaya. Pastikan kendaraan dalam kondisi baik. Koordinasikan dengan tetangga sekitar untuk parkir di satu sisi dan satu arah untuk menghindari macet. (Misalnya di Jalan Kaliurang, semua mobil diparkir di sisi timur jalan, menghadap ke selatan.)

Perlengkapan penting:

* Masker penutup hidung dan pelindung mata (goggles).
* Persediaan air minum yang cukup untuk 4 hari.
* Persediaan makanan yang tak mudah rusak untuk 4 hari (untuk manusia dan hewan peliharaan).
* Plastic wrap untuk melindungi barang-barang elektronik.
* Radio dan baterai cadangannya.
* Alat komunikasi (HP) dan baterai cadangannya.
* Lampu darurat, senter (flashlight), dan baterai cadangannya.
* Selimut dan pakaian hangat.
* Obat-obatan dan P3K.
* Perlengkapan kebersihan (sapu, vacuum cleaner beserta kantong penyaring cadangannya, lap pel, kantong plastic, sekop, dll.)
* Sejumlah uang tunai, mengingat ATM mungkin mati.

Anda mungkin terjebak hujan abu di dalam mobil, jadi tak ada salahnya menyiapkan perlengkapan darurat di dalam mobil juga.

Ketika hujan abu:

* Jangan panik! Bersikap tenang dan rasional.
* Tetaplah di dalam rumah, kecuali jika sudah ada peringatan untuk evakuasi. Jika sedang berada di luar rumah, segeralah berlindung (dalam rumah atau mobil).
* Gunakan masker, sapu tangan, atau kain untuk melindungi hidung dan mulut.
* Jangan gunakan lensa kontak karena dapat menyebabkan abrasi kornea. Jika perlu, gunakan goggles untuk melindungi mata.
* Jangan padati jaringan komunikasi untuk hal-hal tak penting. Gunakan telepon untuk panggilan penting saja.
* Pantau kondisi melalui radio atau televisi. Dengarkan kabar/pernyataan dari pihak yang berwenang, bukan opini dan asumsi dari reporter! Pandai-pandailah memilih channel yang menyampaikan berita terkini dan terpercaya tanpa menyebabkan kepanikan.
* Simpan air yang cukup (dalam tandon air, bak, atau ember yang tertutup). Selalu ada kemungkinan air akan tercemar. Jika air sudah tercemar, biarkan padatan mengendap sebelum digunakan, namun jangan digunakan untuk minum.
* Cuci peralatan makan dan memasak sebelum dipakai, dan buah-buahan serta sayuran sebelum dikonsumsi.
* Kecuali dalam keadaan darurat dan telah dinyatakan perlu evakuasi, hindari penggunaan kendaraan bermotor. Jika terpaksa, jangan berkendara dengan kecepatan tinggi mengingat jarak pandang yang terbatas dan jalan yang licin.
* Jangan malah berfoto-foto untuk di update di FB dan melihat pemandangan! Ini hujan abu, bukan hujan salju!
* Tetap gunakan masker ketika hujan abu telah berhenti dan selama proses pembersihan. Abu mungkin tetap akan ada selama beberapa hari.

Ketika harus evakuasi:

* Tetap tenang dan rasional. Pastikan semua anggota keluarga ada (termasuk binatang peliharaan, jika memungkinkan).
* Matikan gas, listrik, dan air.
* Kunci rumah sebelum pergi.
* Diskusikan tempat untuk bertemu anggota keluarga apabila terpisah. Alat komunikasi mungkin tidak berfungsi ketika bencana.
* Gunakan pakaian dan alas kaki yang kuat, masker pelindung hidung dan mulut, serta pelindung mata.
* Bawa perlengkapan darurat bencana yang telah disiapkan sebelumnya. Ini termasuk: uang tunai, kunci kendaraan, SIM, Kartu Identitas Penduduk, paspor, daftar kontak darurat, radio, air minum, makanan, dokumen penting, makanan hewan (jika ada hewan peliharaan), perlengkapan bayi (jika ada bayi), pembalut wanita, obat-obatan, lampu darurat, alat komunikasi (HP/HT), baterai, pakaian, perlengkapan tidur (selimut, sleeping bag/kasur angin/busa tipis, bantal tiup), dll.
* Segera menuju tempat pengungsian. Menurut Koordinator Penanganan Bencana PBB, aktivitas bahaya mungkin terjadi hingga radius 30 km.

Bagi yang berada di luar daerah bencana:

* Bencana bukan obyek wisata! Jangan menambah padat lalu-lintas daerah bencana! Kecuali jika anda adalah tenaga ahli atau diminta bantuannya, tak perlu datang ke lokasi bencana. Bantuan bisa disalurkan melalui lembaga-lembaga yang terpercaya.
* Jika ingin menjadi relawan, hubungi koordinator yang berwenang. Jangan langsung menuju ke lokasi.

Info dari @jalinmerapi: BUTUH SEGERA Relawan utk bergerak malam ini. Koordinasi di Forum PRB, Kesbanglinmas, Jl. Jend. Sudirman 5, Yogyakarta (utara eks Pizza Hut tugu) Telp. 0274 554427

*** Diterjemahkan bebas dan disarikan dari berbagai sumber. http://www.facebook.com/l/db16d01rLEzO6jAp5JVdbOizucw;www.wikihow.com/Category:Disaster-Preparedness http://www.facebook.com/l/db16dQENkKTFXAh-V3o_1rYWoxw;volcanoes.usgs.gov/ http://www.facebook.com/l/db16dcCQZ_2Rua3d0JvatTpfGXw;www.ehow.com/
2 seconds ago · Edit Post · Delete Post

Advertisements


1 Comment

interlocation project #1

Inter Local Project, Strengthen Inter-nation Independence Working Artists

http://jogjanews.com/en/inter-local-project-strengthen-inter-nation-independence-working-artists/


About 40 works of art exhibited in the genre of street art event Inter Location Project Survive on the Road Garage on Bugisan Tirtonirmolo, Poor, Bantul, Yogyakarta by five artists young adherents of the genre of art street art from Melbourne (Australia) and Yogyakarta (Indonesia).

wind

Bayu Widodo street in front of the work means “Time Is Not Mine”

Five artists are Bayu Widodo, Rolly LoveHateLove, El Kampreto from Yogyakarta and two female artists, Claire Mintcakes and Snotrag from Melbourne. They present
art forms of street art genre with various materials such as paper, wood, t-shirts, flags, cardboard, paper, cloth, metal, customized goods, etc.

Celebrating the differences through the medium of “art is a pleasure” through a culture of tolerance
(See Collaboration Yogyakarta Artists Street Art of Melbourne In the Inter-Local Project, Jogjanews.com, 17 / 7).
That’s what these artists do is fifth in Survive Garage.

Bayu Widodo, owner of Garage Survive ILP not explain any theme because the ILP is
media to communicate and share the different experiences among the artists who participated this project.

“The pictures they are funny, the pictures with individual creativity, there is the cigarette paper etc.
complement each other, “said Bayu. He explained ILP was made possible because of technological assistance email
and photo sites on the Internet that is run by artists of two countries.

visitors

A visitor looking at the works of street art collaborative artists in Yogyakarta and Melbourne Australia Survive Garage which also became an alternative gallery owners, Bayu Widodo.

“We contact each other emails, look at flickr. Earlier I met them and work together, “said Bayu
tells little residency program in Australia some time ago.

Five artists who exhibited together is to use different media to present the works of street art they. Bayu Widodo own drawing paper as a canvas displaying works that are shaped head but still the spirit of anger expression.

Time Is Not Mine

Work Bayu Widodo is titled “Time Is Not Mine”. The title was written on four heads that seem to shout. He also brings great nohtah red and green. There is another form of works such as the head of Bayu Widodo in his work entitled “Do not Look At Me Look At Your Face.”
Rolly

The work of street art shaped Rolly LoveHateLove Logos characters typical of a Rolly.

Meanwhile Snotrag among others present in several Aboriginal figure drawing canvas cardboard. El Kampretto showcase the work of strange characters in the street among other wooden canvas, titled “Never Die”.

Mintcakes exhibit drawing on paper drawing on her personal life. As in the work of drawing titled “My Dream 2 Weeks Ago” which describes his dream of a map of Australia in radar observations.

Mintcakes also showcased the work of drawing on her ancestors who left many historic relics such as a building lot in the title of “Brunswick Melbourne” as well as anti-smoking health campaigns about the work of “Do not Light Them”. Claire’s work drawing mintcakes Mintcakes “Bruinswick Melbourne” and “Do not Light Them”

While Rolly LoveHateLove exhibit characters which he used to street art of painting in tembpk-high wall on the outskirts of Yogyakarta city street. This time Rolly brings the characters that he calls “logos” that the bark was carried out together with rope.

All five of these artists also perform together in the process of painting the walls and walls of houses Survive Garage Bayu Widodo other. Street art works of Indonesian and Australian artists are on one side of the world’s imagination by presenting each of which is very exciting to be enjoyed.

But the independence of working like this is a big capital to grow bigger in the future for them these artists. Moreover, with a world like this indefinitely. They certainly will be able to do many things.

Kolaborasi perupa Street Art Yogyakarta-Melbourne Dalam Inter Location Project

http://jogjanews.com/2010/07/17/kolaborasi-perupa-street-art-yogyakarta-melbourne-dalam-inter-location-project/

Bertempat di Survive Garage Jln Bugisan 11 Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul Yogyakarta, akan hadir beberapa street art artis muda seperti Claire Mintcakes, Snotrag, Bayu Widodo, LoveHateLove serta El Kampreto.

ILP adalah usaha untuk mempertemukan kesadaran tentang adanya kepemilikan budaya dan sejarah seni yang berbeda antara Australia dan Indonesia namun kedua komunitas ini tetap dalam ikatan sosial karena seni menyelamatkan, mempersatukan dan menyenangkan semua pihak.

Acara ini juga menunjukan persahabatan antar perupa serta bagaimana mereka berinteraksi satu sama lain dengan lingkungannya. Pengalaman memahami “liyan” menjadi penting. Perhelatan kecil ini menunjukkan perjumpaan identitas antar masing-masing perupa dan bagaimana berinteraksi dengannya.

Bagi Claire dan Snotrag, kolaborasi ini menyampaikan pengalaman hidup mereka di “rumah baru” bernama Yogyakarta. Sebaliknya, seniman Jogya mengalami kembali “rumah baru” yang dialaminya. Inter Location Project merupakan ruang yang mempertemukan individu dan komunitas.

Merayakan perbedaan melalui medium “seni sebagai kesenangan” melalui budaya toleransi. Peristiwa ini menjadi tahap-tahap awal yang penting untuk membentuk komunitas kemanusiaan. Para seniman dua negara ini akan menampilkan mural kolaboratif berupa karya cetak, gambar, instalasi bendera, T Shirt, desain baju, serta diwarnai pula performance Hip Hop dari LoveHateLove dan kawan-kawan.


1 Comment

Anton Subiyanto


Leave a comment

Anton Subiyanto: room shit home (MAIN KAYU)

Narsisius Subiyanto

“Room Shit Home – MAIN KAYU” 14-28 Maret 2010 di Survive!Garage. Anton Subiyanto

Opening Exhibition

Sunday, 14 Maret 2010 at 7 30 PM-11 PM

With : JARE RASTA

TEORIA

KONTENPRODUK

come and FUN

Ribuan Makna Sepotong Kayu http://www.krjogja.com/news/detail/24611/Ribuan.Makna.Sepotong.Kayu.html

Sepotong kayu memiliki aneka dan pemahaman yang kompleks dalam kehidupan manusia. Kayu bisa menjadi alat mematikan jika digunakan tidak sesuai dengan semestinya. Namun, kayu pun menjadi sesuatu yang dibutuhkan manusia sesuai dengan perkembangan waktu.

Ditangan Anton Subiyanto, yang menggelar pameran Room Shit Home ‘Main Kayu’ di Survive Garage! mulai 14 hingga 28 Maret, sepotong kayu menyimpan ribuan makna dalam karya seni.
Anton menggambar dan membuat karya yang menggelitik manusia untuk kembali kepada kodrat kayu yang berasal dari pohon.

Dia merasa miris dengan pembalakan liar dan illegal logging yang hanya menguntungkan pengusaha namun menyebabkan bencana alam. Rakyat menjadi korban. Beberapa potongan kayu digeletakkan begitu saja diatas lantai. Potongan tersebut dilukis dengan berbagai alat yang biasa digunakan untuk menebang pohon.

Ada gambar gergaji, gambar palu, ada gambar melingkar, dan kayu polos. Seolah, Anton membukakan mata manusia, bahwa aat-alat tersebut sangat tak ramah dengan kayu. Bertentangan dengan alam jika digunakan dengan penuh arogansi.

Anton seperti memiliki pengalaman ‘lain’ dengan kayu. Dia berharap memberi perlawanan pada dunia dengan ‘memegang’ kayu.

more art works, click store